Thursday, 24 January 2013

Pengaturan Mobilitas pada Pasien


Latar Belakang
Banyak kondisi patologi yang mempengaruhi kesejajaran dan mobilitas tubuh. Abnormalitas postur congenital atau didapat memengaruhi efisiensi sistem muscoloskletal, serta kesejajaran, keseimbangan, dan penampilan  tubuh. Selama pengkajian fisik, perawat mengobservasi kesejajaran tubuh dan rentang gerak. Abnormalitas postur dapat menghambat kesejajaran, mobilitas, atau keduanya sehingga membatasi rentang gerak pada beberapa sendi, perawat mempertahankan rentang gerak maksimum pada sendi  yang tidak sakit.
Sebelum melakukan semua tindakan yang berkenaan dengan mobilitas, perawat harus melakukan dengan mobilitas, perawat harus melakukan persiapan termasuk mengkaji kekuatan otot, mobilitas sendi pasien, adanya paralisis atau paresis, hipotensi ortorastik, toleransi aktifitas, tingkat kesadaran, tingkat kenyaman, dan kemampuan untuk mengikuti instruksi. Selain itu menyiapkan alat yang diperlukan untuk melakukan mobilisasi (kursi roda, tongkat dll). Perawat juga harus memahami prinsip mekanika tubuh dalam membantu pasien bermobilisasi. Ini diperlukan untuk mempertahankan fungsi sendi dan muscoloskletal perawat.

MOBILITAS PASIEN

Kemampuan untuk merubah posisi tubuh penting untuk mempertahankan bentuk tubuh yang normal. Postur yang buruk dapat menimbulkan masalah, seperti lengkungan tulang punggung, dan dapat merusak fungsi paru. Posisi anggota badan yang tidak tepat dapat menimbulkan kehilangan fungsi dan kontraktur.
Dalam keadaan pengarus anestesi, kontrol syaraf otot hilang dan posisi anggota tubuh yang buruk mengarah pada kehilangan fungsi sementara, jika syaraf terjepit. Penting sekali menyokong seluruh anggota tubuh di dukung sepenuhnya dengan posisi netral.
Periode waktu yang lama dalam suatu posisi dapat merusak sirkulasi dan syuplai syaraf,kecendrungan untuk timbulnya nyeri tekan jika pasien tidak dapat merubah posisi sesuai dengan keinginanya, perawat bertanggung jawab untuk melakukan hal tersebut padanya. Pengetahuan perawat terhadap macam-macam posisi akan memungkinkannya untuk memilih posisi mana yang dapat membantu sebagian besar pasien.

POSISI YANG DIGUNAKAN DALAM PERAWATAN PASIEN

2.1       Posisi Fowler
Posisi fowler adalah posisi dengan setengah duduk atau duduk. Pemberian posisi pasien di tempat tidur memerlukan persiapan sebagai berikut: perawat perlu mengkaji kesejajaran tubuh dan tingkat kenyamanan pasien, perawat harus menyiapkan alat dan bahan (bantal, papan kaki, bantal pasir, retrein, pagar tempat tidur, dll) sehingga dapat mengistirahatkan punggung pada bantal
Tujuan:
1.      Mempertahankan kenyamanan
2.      Relaksasi pada pasien
3.      Membantu pernafasan
Dilakukan:
1.      Pada Pasien sesak napas(penyakit jantung, asma, dll)
2.      Pada Pasien pasca bedah daerah thorak dan perut
Perhatian:
1.      Keadaan umum pasien
2.      Bila merosot segera dibetulkan
3.      Pada pasien pasca bedah, di bawah lutut tidak diberi guling/bantal
Alat dan bahan
Penopang dan bantal
Cara yang ergonomis
1.      Cuci tangan
2.      Lakukan persiapan seperti disebut di atas
3.      Tinggikan kepala tempat tidur dengan posisi 30o untuk semi fowler, 450-600 untuk fowler, dan 900 untuk high fowler.
4.      Topangkan kepala diatas tempat tidur atau bantal kecil
5.      Gunakan bantal untuk menyokong lengan dan tangan bila pasien tidak dapat mengontrolnya secara sadar atau tidak dapat menggunakan tangan dan lengan
6.      Tempatkan bantal tipis di punggung bawah
7.      Tempatkan bantal kecil atau gulungan handuk di bawah paha
8.      Tempatkan bantal kecil atau gulungan di bawah pergelangan kaki
9.      Tempatkan papan kaki di dasar telapak kaki pasien
10.  Turunkan tempat tidur
11.  Observasi posisi kesejajaran tubuh, tingkat kenyamanan, titik potensi tekanan
12.  Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
13.  Catat prosedur termasuk : posisi yang ditetapkan, kondisi kulit, gerakan sendi, kemampuan pasien untuk bergerak, dan kenyamanan pasien.
FOWLER’S POSITION_1
BED FOR FOWLER’S POSITION

2.2       Posisi Sim
Pada posisi ini pasien berbaring miring baik ke kanan atau ke kiri, sebagian ke satu sisi dan ke depan-satu lengan di depan, satu lengan flexi ke belakang-memberi kestabilan. Puncak lutut lebih flexi dari yang lainnya. Pada pasien yang mengalami luka atau cedera di kaki arthritis tidak diperbolehkan mengambil posisi ini.
Tujuan :
1.      Memberi kenyamanan
2.      Memberikan obat per anus(suposittoria)
3.      Melakukan pemeriksaan daerah anus
Dilakukan:
1.      Pada pasien untuk pemeriksaan rectum
2.      Pada pasien untuk pemberian obat-obatan melalui anus

Cara yang ergonomis:
1.      Cuci tangan
2.      Lakukan persiapan seperti yang diuraikan di atas
3.      Tempatkan kepala datar di tempat tidur
4.      Tempatkan pasien dalam psisi terlentang
5.      Posisikan pasien dalam posisi miring yang sebagian pada abdomen
6.      Tempatkan bantal kecil di bawah kepala
7.      Tempatkan bantal di bawah lengan atas yang difleksikan, yang menyokong lengan setinggi bahu. Sokong lengan lain di atas tempat tidur.
8.      Tempatkan bantal di bawah tungkai atas yang difleksikan yang menyokong tungkai setinggi panggul.
9.      Tempatkan bantal pasien dengan permukaan plantar kaki.
10.  Turunkan tempat tidur
11.  Observasi posisi kesejajaran tubuh, tingkat Kenyamanan, dan titik potensi tekanan.
12.  Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
13.  Catat prosedur termasuk posisi yang ditetapkan, kondisi kulit, gerakan sendi, kemampuan pasien membantu bergerak, dan kenyamanan pasien.
                                                      Figure 1-6. Sim's position
2.3       Posisi Trendelenburg
Posisi ini menempatkan pasien di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah dari bagian kaki.
Tujuan
1.      Melancarkan peredaran darah ke otak
2.      Memudahkan jalannya pembedahan pada bagian perut
Dilakukan:
1.      Pada pasien shock.
2.      Pada pasien dengan pemasangan skin traksi pada kaki
3.      Pada pasien pendarahan vagina
Perhatian :
1.      Tempat tidur jangan sampai bergerak
Alat dan bahan
1.      Bantal
2.      Tempat tidur khusus
3.      Balok penopang kaki tempat tidur (opsional)
Cara yang ergonomis
1.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2.      Cuci tangan
3.      Pasien dalam keadaan berbaring telentang
4.      Tempatkan bantal diantara kepala dan ujung tempat tidur pasien
5.      Tempatkan bantal di bawah lipatan lutut
6.      Tempatkan balok penopang di bagian kaki tempat tidur
7.      Atau atur tempat tidur khusus dengan meninggikan bagian kaki pasien
8.      Cuci tangan
TRENDELENBURG’S POSITION

2.4       Posisi Dorsal Recumbent
Pada posisi ini pasien di tempatkan pada posisi terlentang dengan kedua lutut fleksi di atas tempat tidur.
Tujuan
1.      Perawatan daerah genitalia
2.      Pemeriksaan genitalia
3.      Posisi pada proses persalinan
4.      Untuk kenyamanan, relaksasi
5.      Pemeriksaan abdomen
6.      Kontra indikasi jika masalah ada
Dilakukan:
1.      Pada ibu hamil untuk pemeriksaan
2.      Pada ibu hamil yang akan bersalin
3.      Pada waktu melakukan vulva higiene,
Perhatian:
1.      Keadaan umum pasien
2.      Jangan sampai melelahkan pasien
Alat dan bahan
1.      Bantal
2.      Tempat tidur khusus
3.      Selimut
Cara yang ergonomis:
1.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2.      Cuci tangan
3.      Pasien dalam keadaan berbaring(telentang)
4.      Pakaian bawah dibuka
5.      Tekuk lutut dan direnggangkan
6.      Pasang selimut untuk menutupi area genitalia
7.      Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
                                                Figure 1-2. Dorsal recumbent position
2.5       Posisi litotomi
Pada posisi ini pasien ditempatkan pada posisi telentang dengan menangkat kedua kaki dan ditarik ke atas abdomen, tungkai bawah membuat sudut 900 terhadap paha
Tujuan
1.      Pemeriksaan alat genitalia
2.      Proses persalinan
3.      Pemasangan alat kontrasepsi
Dilakukan:
1.      Pada pasien dengan tindakan ginekologi
2.      Pada pasien untuk pemeriksaan kandung kemih
Alat dan bahan
1.      Sarung bantal
2.      Tempat tidur khusus
3.      Selimut/kain penutup
Cara yang ergonomis
1.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2.      Cuci tangan
3.      Pasien dalam keadaan berbaring(telentang)
4.      Angkat kedua paha dan taarik keatas abdomen
5.      Tungkai bawah membentuk sudut 90 terhadap bahan
6.      Letakkan bagian lutut/kaki pada penyangga kaki di tempat tidur khusus untuk posisi litotomi
7.      Pasang selimut
8.      Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

LITHOTOMI’S POSITION
Figure 1-4. Dorsal lithotomy position

2.6       Posisi Genu Pektoral (Knee-Chest)
Pada posisi genu pektoral pasien menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian alas tempat tidur.Hal yang perlu diperhatikan adalah jangan biarkan pasien tersebut sendiri karena kemungkinan bisa pusing dan jatuh.
Tujuan
1.      Pemeriksaan rectum dan sigmoid
2.      Untuk membantu merubah letak kepala, pada pasien hamil sungsang
Alat dan bahan
1.      Tempat tidur
2.      Selimut
Cara yang ergonomis
1.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2.      Cuci tangan
3.      Minta pasien untuk mengambil posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada matras tempat tidur
4.      Pasang selimut untuk menutupi daerah perineal pasien
5.      Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
KNEE-CHEST’S POSITION
KESIMPULAN
1.         Kemampuan untuk merubah posisi tubuh penting untuk mempertahankan bentuk tubuh yang normal, sehingga tidak terjadi postur tubuh yang buruk yang dapt menimbulkan masalah.
2.         Dalam penentuan posisi berbaring yang benar, harus diperhatikan bagaimana mekanika tubuh yang benar dan ergonomis supaya pasien mendapatkan kenyamanan dan relaksasi yang baik selain itu, mencegah terjadinya kerusakan sirkulasi dan suplai syaraf akibat periode lama pada satu posisi.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Allimul Hidayat, Aziz & Ulliyah, Musrifatul.2004.Kebutuhan Dasar Manusia.EGC:Jakarta
Attrea, Moira & Merchant, Jane.1993.Belajar Merawat di Bangsal Bedah.Alih bahasa Maria A. Wijaya Rini.EGC:Jakarta