Showing posts with label pOems. Show all posts
Showing posts with label pOems. Show all posts

Sunday, 8 October 2017



Hingar pergi mengejar ria yang tenggelam di ufuk laut.

Seketika kulihat langit menggantung pada mega yang mendung.

Ceria yg lusuh pun bersembunyi di telapak kaki, sebaik ia berlari seberat itu pula sedih merayap hati-hati.

Kemana aku harus membuangmu, bahwa tiap kau memenuhi ruangku tiap itu pula aku harus membunuhmu.

Ternyata begini sesak menanggung ruah yang berbala, berkali kucoba berkali pula malam terbit dari kepala.

Yaad kar rahi hun Saif~

Sunday, 12 February 2017



Aku terbangun dalam hingar malam,
tergugu dalam sepi keramaian.
Hari itu hingar dan sepi masih dikuasai kamu,
lalu kutemukan diriku duduk termangu, berusaha memeluk rindu dan membuangnya darimu.

Tuesday, 17 January 2017



Segalamu pernah berhenti pada kata,
Dan kali ini kuakhiri pada satu koma.
Menjadi jawab serta tanya, kau pernah ada disana.
Teruntuk kamu yg kutinggal pada lupa, jangan kembali lagi, ya? 

Thursday, 12 January 2017



Kau mencurangi pada apa yg kupilih,
tidak mungkin ada pagi di antara senja dan malam yg kau tawari.
Bila kupaksa kau utk menitipkan henti disini, bisakah kau pergi?


Duka suka luka pada hampa.
Suka luka pada duka yg tiada.
Hampa suka pada luka menganga.
Luka kita pada duka menghampa tiada.



Kau tidak perlu memaksa gundah menjadi indah,
pada hati yg kau bagi, dia tlah mencuri pada apa yg tidak kau bawa lari.
Tidak cukup menyisakan malam dalam ruang yg sudah sesak ini.
Aku butuh pagi.

Sunday, 8 January 2017




Ada luka yg ia bawa bersama kecewa,
rindunya ia titipkan pada orang yg tidak lagi sama,
berikut mimpi yg ia tinggal disana.


Ada memar yg ia cercah dalam guratan mata,
tatapnya tdk lagi tertuju pada harap yg sama,
berikut rasa yg sengaja ia sauh ke tempat berbeda.


Senja di ufuk mataku tenggelam dalam rona kemerahan,
biasnya menyiratkan duka, ada luka yg dititip oleh spektrum jingga.
Kemudian malam terbit dari selasar matamu.
Gelap.
Tidak ada isyarat yg padanya kita pernah berkata tanpa suara,
mesra...

Wednesday, 28 December 2016



Kau penikmat duka dari senyumku yg tak lagi bangga.
Aku ketunggalan dari luka semesta yg kau cipta.
Bersamamu tak lagi ada alasan memerah pada jingga.
Usah lagi reka, cukup seka, lalu lupa.

Tuesday, 27 December 2016



Menjadi aku harus tau diri,
seperti sadar ricik kepada gelombang pasang lalu menepi,
atau berlaku suit pada angin dan dibawa pergi,
bahwa memilikimu seperti senja yg merindukan pagi, tidak bisa lagi..

Sunday, 25 December 2016



Puncak dari mencintai adalah mengikhlaskan.
Memendarkan rasa menjadi biasa,
membuat hadir seumpama tak ada,
berpura gila bahwa semua akan baik-baik saja,
lalu melupa..

Akulah si jeda dari ritme yg melulu,
membuat mimpi menganga pada luka dan kubiarkan itu.
Menjadi selongsong di antara segala.
Memberi spasi antara kau dan dia.
Lalu kukabarkan duka pd matamu hingga berderai air darinya.

Tuesday, 13 December 2016



Berjuta kata yg menari takkan mampu membuatmu kembali.
Pada senja yg ada di hampir setiap cerita, hadirmu tak kuharapkan juga.
Tapi selalu kutanya pada hampa, kapan kita akan bersua?
Dalam sadar kutumpahkan semua, aku ingin kamu juga.


Hujan dibalik kaca.
Buram.
Kabur.
Berbayang.
Direkanya sekitar dari balik basahnya kaca.
Bukan, bukan pada kaca, tapi dari mata dibalik kacanya lah air mata turun derai tak ada habisnya.

Monday, 12 December 2016



Hujan meneteskan cerita.
Tentang kita yg tidak pernah bersua.
Kau tau? Dibawah payung ini hujan pernah berteduh dari derasnya kita,
dan kini genangnya mewakili rindu dari tetesan potongan waktu yg pernah ada.
Pada hujan yg membaui tanah, aromamu masih saja kutemui disana.


Merindukanmu adalah cara baruku membuang waktu.
Sesekali kuaduk lagi cerita agar ia berputar jauh dari memoar.
Dan kenangan yg muncul pun menjadi bagian dari rasa,
manis pada pangkal dan pahit di ujungnya.


Peluk hujan pada bumi sudah meranggas.
Pada waktu dan jarak yg kita buat berkejaran, tak ada temu,
hanya sapa oleh angin dan gelombang suara, berpusar pada titik yg jenuh.
Dan sampai di akhir batas, kau kulepas.



Riak yg berlari terhenti, bergugus pada muara yg diam.
Ada gairah yg cerianya terpendar,
berhenti pada debar yg tak mampu dikuasai segala.
Lalu aku mencandui hadirmu tanpa mampu berkata-kata.

Saturday, 10 December 2016



Terima kasih jarak, karenanya aku berguru pada sabar,
namun sesekali kucibir juga waktu, karenanya aku tau bahwa menunggumu adalah bagian dari sadar,
kemudian aku pun berlalu, tidak perlu lagi kamu ataupun temu.

Friday, 4 November 2016




Pada doa yg dipanjatkan diam-diam temunya begitu indah.
Sedang doaku tak sampai disana, tersangkut di lapis awan yg entah dimana.
Hanya doamu dan doanya saja kulihat bergelayut tak bersuara, mesra...