Showing posts with label Script - Pieces of stories. Show all posts
Showing posts with label Script - Pieces of stories. Show all posts

Friday, 26 October 2018

Rumah Nenek




Matahari sangat terik pagi ini, jam masih menunjukkan pukul 7, tapi cahayanya sudah mendelik-delik dibalik kain jendela. Ciutan burung terdengar sahut-menyahut dari balik jendela, segera aku bangun dan membuka kusennya. Tampak kebun labu terhampar luas beberapa meter hingga ke pagar rumah. Kabut pagi samar-samar masih tampak di antara pepohonan di jalan setapak dekat pagar rumah. 

Pelan-pelan kuhirup udaranya, “Hmm.. Segar sekali”, pikirku.


Setelah bergegas mandi, dapur menjadi tujuan utama, sepiring nasi goreng telur dadar sudah mengepul hangat di atas meja, tak lupa pula segelas susu hangat. Aku segera duduk di kursi, menghadap ke jendela dan melihat hamparan kebun labu nenek sebagai pemandangannya. Ah, liburan di rumah nenek memang selalu asik.

Perut kenyang, mata kembali mengantuk. Berlibur di desa ke rumah nenek selalu menjadi hal yang asik. Kulihat nenek sedang memetik labu madu di kebunnya. Setelah gerobaknya penuh maka nenek akan segera ke desa lain di kecamatan Ngasem untuk menjajakan labunya.

Tak lama pintu dapur terbuka, nenek masuk dan ekspresinya terpengarah melihatku di meja, namun alih-alih menanyakan perihalku, nenek malah langsung memboyong piring makanku ke westafel kecil di sudut dapur dan mencucinya.

Ah, sudahlah, mencuci piring memang salah satu hobi nenek yang suka berbenah-benah. Aku sih malas dan repot harus basah-basah begitu. Aku langsung balik dan berlari kecil ke kamar, lantai kayu rumah yang memang sudah reot pun berderik-derik. Nenek segera berlari ke pintu dapur dan memperhatikanku, mungkin terganggu dengan ringkihan lantai reot ini pikirku, lalu aku sayup-sayup berjalan perlahan dan pelan menyelinap ke balik pintu kamarku.

Kalau dihitung-hitung sepertinya sudah 3 minggu lebih aku berlibur di rumah nenek. Entah bagaimana ceritanya aku lupa, penatnya aktivitas sekolah di Kediri pun aku tak mau ingat lagi, aku lebih suka disini, di Desa Toyoresmi. Bersama nenek yang sedari dulu mengasuhku, ya, orang tua ku sudah tiada sejak aku berumur 2 tahun.

Angin dingin menyeruak masuk ke kamar, aku terbangun mendengar suara berisik nenek membanting jendela kamarku dan menutupnya, aku lupa menutup jendela, angin kencang bersahut-sahutan di luar. Selepas makan tadi pagi aku beranjak ke tempat tidur dan tertidur. Wajah nenek tampak melihatku tanpa ekspresi, aku heran ada apa dengan nenek hari ini.

Pukul sudah menunjukkan jam 9 malam, pelan-pelan aku menyelinap ke dapur, aku lapar.  

“…… nenek takut….kenapa kau tak datang saja dan lihat sendiri?",

Sayup-sayup kudengar suara nenek di di ruang tamu, kudatangi suara itu, dan kulihat nenek meringkuk di sofa tamu sembari menelepon.
“Ari, datanglah besok pagi”, nenek tampak meminta pada seseorang di seberang pesawat telepon, Ari, kakak sepupuku yang bedagang di kota Kediri.


Ntah kenapa ada perasaan marah dalam hatiku. Aku tak suka rumah ini dikunjungi orang lain, siapapun itu. Aku mau hanya aku dan nenek. Petir terdengar menggelegar di luar, angin kencang tadi disambut oleh hujan gerimis yang semakin lebat. Nenek sepertinya tak nyaman dengan kehadiranku. Benar saja, saat aku ke dapur, nenek sudah membersihkannya, dia tak menyisakan makanan di meja makan. Hanya ada gelas setengah kosong berisi air. Dengan sengaja kusenggol gelas itu dan tumpah pecah menyeruak di lantai dapur. Demi mendengar suara pecahan itu, nenek langsung menutup telepon dan beranjak masuk ke kamarnya. Aku makin marah dan tak suka.

Esok sore kak Ari sudah tiba di pagar rumah, matanya berbinar-binar memuji betapa ranumnya labu madu di kebun nenek. Aku hanya memperhatikan nenek menyambutnya di pagar rumah. Samar tapi masih dapat kudengar, kak Ari menanyakan suatu hal pada nenek yang menyakiti hatiku.

“Arwah Sari masih gentayangan di rumah ini, Nek?”


“Hush, jangan bertanya begitu, nanti dia marah”, jawab nenek.

Thursday, 11 October 2018

Ibu



“Kenapa chat ku yang lalu tidak dibalas, Bu?”, satu pesan kembali dikirim Ruri, ia mengambil bolpoin hitam yang tergeletak di atas meja kerjanya lalu melingkari satu tanggal lagi di bulan Mei.

“Ciieee ngitung hari lamaran ya?”, celetuk Noni dari balik meja.

Ruri pun tersenyum masam, untuk beberapa pertanyaan memang tak perlu jawaban, pikirnya. 
Setelah Noni menghilang dari balik meja, Ruri kembali melamun melihat ke arah ponselnya. Sudah ribuan pesan yang dikirimkan, tapi tak satu pun ada balasan. Lalu ia buang pandangannya menatap jauh ke jendela kerja di sampingnya, tampak pemandangan langit putih luas terbentang dari jendela kantornya di lantai 8.

“Ibu, apakah kau sudah makan? Kenapa chat ku tak juga dibalas? Semarah itu kah?”, berselang 2 jam, chat kembali dikirim Ruri untuk Ibu.

“Ri, makan yuk”, ajak Noni tiba-tiba.

“Udah jam makan siang nih”.

“Ayo”, jawab Ruri singkat.

Sendok dan piring berdentingan. Mereka makan dalam diam. Cuaca hari itu panas, ditambah suasana warteg yang sesak, menambah kepenatan di siang itu, terutama di pikiran dan hati Ruri, yang selalu saja carut.

"Kamu kenapa sih, belakangan murung terus, berantam lagi sama Kalil?”, tanya Noni mencoba memecahkan keheningan.

“Cerita donk Ri, apa enaknya sih mendam masalah sendiri?’, sambung Noni lagi.

Ruri tersenyum getir, “Bukan Non, bukan masalah sama Kalil, aku dan dia baik-baik saja kok”.

“Lantas?”, tanya Noni penasaran.

"Ibu”, jawabnya singkat dan tertahan. “Ibu tak pernah mau membalas chat ku, belakangan beberapa bulan lalu hubungan kami tak baik”, jawab Ruri.
Disendokkannya lagi nasi ke dalam sup, namun hanya dimainkannya saja, tak berminat ia menyendokkan ke mulutnya.

“Boleh aku tau ada masalah apa dengan Ibu ri?”, tanya Noni penasaran.
Ruri meletakkan sendoknya tenggelam dalam mangkuk sup. Pandangannya masih menunduk, namun matanya nanar ke atas menatap Noni.

"Eh, kalau kau tak suka, tak dijawab juga tak apa loh”, jawab Noni segan.

“Dia marah karena 3 bulan lalu aku pergi menjenguk Ayah. Ibu benci sekali dengan Ayah sejak perselingkuhannya dengan adik Ibu terbongkar”, jawab Ruri datar.
Noni agak terperangah mendengar penuturan Ruri, tapi ia pandai pura-pura menyembunyikannya.

“Ya sudah, coba saja temui Ibu, Ri, jelaskan padanya pelan-pelan, yakinlah tak ada Ibu yang tak memaafkan”, Noni mencoba memberi nasihat dengan pelan.

“Bagaimana bisa jumpa? Chat ku saja enggan dibalasnya”, Tutup Ruri.  
                                                                             
                                                                           ooOOoo 



Hari sudah gelap. Setelah beberapa jam berdiri di kereta,  Ruri tiba juga di stasiun Gambir, jarak dari Grogol ke Gambir memang memakan waktu lama. Ya, rumah ibu ada disana. Setelah menumpang ojek dari Gambir, akhirnya ia tiba di gerbang rumah ibu, ia membuka gerbang besar yang tak terkunci itu, lalu masuk ke halaman.

Halaman rumah ibu bisa dibilang cukup luas. Namun Ruri tak langsung menuju ke teras rumah, ia malah mengitari rumah ke sudut semak-semak belukar di halaman belakang rumah. Ia merogoh sesuatu dengan susah payah di antara semak belukar. Ruri terus merogoh dan menjorokkan badannya agak masuk ke semak belukar. Tak lama ia berhasil menyentuh barang yang dicarinya. Pisau. Dengan masih berlumuran darah yang sudah kering. Ruri kembali mengitari halaman ke sudut depan dekat gerbang. Di bawah pohon mahoni yang rindang, batangnya cukup lebar, Ruri mengambil cangkul di dekat akar pohon mahoni, lalu menggali tanah di samping gundukan tanah besar disitu. Pisau itu dikuburnya disana, persis di samping gundukan besar tanah iu. Setelah itu Ruri pergi menuju gerbang rumah, sebelum membuka gerbang, ia menoleh lagi ke belakang, dipandanginya lekat-lekat rumah tua klasik dari kayu itu untuk terakhir kalinya, rumah ibu. Lampu terasnya mati. Sudah 2 bulan ibu tak lagi tinggal di rumah itu. Ibu sudah meninggal. Dibunuh.

“Ping!”, suara chat masuk terdengar dari ponsel Ruri.

Ia terkejut melihat pesan yang masuk di layar depan ponselnya, dan membacanya, “Masuklah, Ibu tak marah lagi”, mata Ruri membelalak dan nafasnya tercekat.

Sunday, 2 September 2018

Hilang




Dilangkahkannya kakinya perlahan. Sesekali dimainkannya rok bunga pink kuning cerah yang dikenakannya. Cuaca hari ini cerah, secerah hati Lina. Meskipun tidak lelah, ia tetap mengistirahatkan badannya di bangku pinggir jalan di taman Braga. Lina tak henti-hentinya mengucap syukur akan kelahiran anaknya 3 bulan lagi. Yah, masih lama sih, tapi buncahan hatinya sudah tak terbendung lagi.

Saat sedang memejam mata, Lina tertidur. Ia tersentak saat terdengar getaran dan suara ponsel dari tas sandangnya. Segera ia mengangkat telefon dari suaminya. 
“Kamu dari mana saja sayang?”, suaminya bertanya dengan suara resah.
“Maaf Mas, Aku ketiduran di bangku taman kota”, jawab Lina pasrah.
“Daerah mana?
“Braga, Mas.”
“Oh, dekat. Iya deh, aku tunggu di rumah, hati-hati ya sayang.”

Lina segera beranjak dari kursinya. Tiba-tiba ia tersentak dan berhenti. Ia elus perutnya. 
“Hufft… gerakanku terlalu cepat, untung dedek di dalam tak terkejut”, batinnya.
Dengan santai ia kembali melangkahkan kakinya, pulang ke rumah. Langit senja tampak merona jingga kehitaman, tanda hari mulai gelap.

Di persimpangan jalan, Lina berpapasan dengan seorang nenek renta berwajah masam. Saat bertemu tatap dalam jarak yang terbilang dekat, nenek tua itu berhenti dan menoleh ke perut Lina yang tampak membuncit dari rok pink kuning bunga-bunganya.

“Hamil?”, tanya si Nenek.
“Iya nih, Nek”, jawab Lina kaku.
“Berapa bulan?”, tanya si Nenek lagi.
“Alhamdulillah 25 minggu, Nek”, jawabnya sumringah.
“Oh”, balas si Nenek datar. “Pulanglah, sudah magrib”, jawab si nenek sambil berlalu sembari memegang perut Lina. Agak ditekan. Sakit.

Lina memandangi si Nenek hingga hilang di persimpangan. “Aneh sekali”, pikirnya.
Ia kembali mengelus perutnya dan berjalan pulang perlahan.

                                            ooOOOoo

Pagi itu Lina malas bangun terlalu subuh. Sengaja ia balikkan tubuhnya ke kanan sebentar, lalu kembali tidur lagi. Ia mengintip dari balik selimut dan melihat suaminya tidak ada di sampingnya. Tempat tidur bagiannya masih rapi.
“Hmm.. Belum pulang juga”, batinnya.

                                         ooOOOoo

Lina berlari perlahan menutup jendela dapur rumahnya. Hujan deras mengguyur kota Bandung. Halaman rumah sudah dibanjiri hujan. Lina menunggu dengan resah di dapur. Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Ia begitu sumringah melihat suaminya pulang. Buru-buru ia mengambil handuk di westafel dan membantu mengeringkan badan Mas Gardi.
“Capek Mas?”, tanya Lina lembut sembari mengusap rambut suaminya yang basah.
“Tadi sih iya, sekarang gak lagi, ‘kan uda liat kamu”
Lina tersenyum kecil sambil mendorong bahu suaminya. “Ah, Mas ini bisa aja deh. Kamu mau mandi? Aku panasin air ya?”.
“Gak usah, aku cuma sebentar, ini pulang cuma mau ganti sepatu lho sayang”. 
Lina diam tertegun, “Oh.”

                                    ooOOoo

Malam ini Lina pun tidur sendiri, sudah berapa malam sejak 3 bulan terakhir suaminya jarang tidur di rumah. “Mungkin sibuk di kerjaan”, pikirnya.
Sesekali ia elus perutnya yang terasa sedikit nyeri. Lina mengatur napas perlahan yang terasa sesak. Air matanya mengalir, tak terasa bantalnya pun sudah basah.

Hari sudah pagi, Lina terbangun dengan mata sembab, sinar matahari dari celah gorden menusuk-nusuk matanya. Lina tersentak ketika dilihatnya pukul sudah menunjukkan jam 10 pagi. Segera ia tarik selimut dari badannya dan bergegas.
“Aaaaaaaarghhhhh!!!!!”, betapa Lina terkejut bukan kepalang ketika melihat perut buncitnya telah hilang!
Apa yang terjadi? Mimpikah?
Berkali-kali ia meraba perutnya tetapi nihil.  Dengan bodohnya Lina mengobrak-abrik selimut, kasur, bantal dan menjenguk kolong tempat tidur seakan mencari benda yang hilang. 
Perutnya rata. Kandungannya hilang.

                                        ooOOoo

Mas Gardi terbangun dengan sentakan pukulan di bahunya.
“Ih bangun! Istri kamu nih nelpon-nelpon! Berisik amat sih!”
“Siapa sih, ‘kan kamu yang istri aku”, desah Mas Gardi yang masih mengantuk. Ia ambil hp nya dan segera ia matikan ponselnya. Telepon dari Lina pun seketika terputus.
“Kamu ih, nyebelin deh!”
“Apalagi sih sayang”, rayu Mas Gardi mesra sembari melingkarkan lengannya di perut Juma, dielusnya perut buncit Juma, “Tuh, langsung 6 bulan ‘kan?”
Juma tersenyum, dan balik memeluk suami yang sudah dinikahinya 5 tahun itu.



Thursday, 30 August 2018

Sesederhana Itu :)


Aku senang melihat centang dua biru di layar ponsel ku setiap kali kita bercerita di layanan chat itu. Centang dua biru itu tidak perlu lama kutunggu, kau selalu memberinya dengan cepat, sesibuk apapun dirimu. Yah, kadang sesibuk apapun aku.

“U not miss me”, aju mu suatu sore. “U not call me for this whole day, I’ve been missing u, lots!”.

“I’m sorry Jaana, I was sooo busy! But I do miss u n think about u this whole day”, aku beralasan.

“Yes u miss me that much that’s why I’m the one who sent u the chat first”, tutupmu.

Sesaat aku bergeming, betapa kalimat itu sangat menohokku. Lalu aku harus membujukmu kalau sudah begitu. Cukup dengan telepon, yang ada videonya pastinya. Lalu waktu kembali renyah, tawamu, candaku, ceritamu. Candu.
Kadang kita memang sesederhana itu.. <3

Tuesday, 31 July 2018

Tamu Malam



"Tok..Tok...!!"

Suara dari arah pintu membuyarkan lamunan Siti yang sedari tadi asyik mengaduk kuah sotonya di dapur. Derap langkah kecil Siti pun mendekati arah suara ketukan pintu.

"Tok..Tok...!!"

"Iyaa..! sebentar", sahut Siti segera bergegas berlari ke arah pintu.

Setelah daun pintu dibuka, ia terkejut bukan kepalang, suaminya berdiri dengan senyum getir tepat didepannya.

"Loh, Mas, bukannya tadi pergi ke pesta Midun?", tanyanya keheranan.

Suaminya langsung nyelonong masuk ke dalam rumah, tanpa menjawab sepatah kata pun dari pertanyaan Siti mengenai kepulangannya yang tiba-tiba.

"Capek ya?", Siti kembali mencecar suaminya dengan berbagai pertanyaan, "Kok kamu cepetan Mas pulangnya? Baru juga pergi. Ada masalah ya?".

Tunip, suaminya, langsung ke dapur dan minum, sekilas dilihatnya soto di dapur yang sudah mendidih, harumnya menyeruak ke liang hidungnya, segera ia mengambil piring dan menaruh nasi sebanyak mungkin, dan dengan cepat tangannya mengaduk soto ke piring nasinya. Nikmat.

"Loh, loh, pulang-pulang dari pesta kok malah makan lagi, kamu tadi disana gak makan ya Mas?", Siti kembali bertanya.

Tunip hanya diam saja. Tampak penat di wajahnya. Makannya begitu cepat, rasa-rasanya sesuap nasi dimulutnya sama dengan satu centong nasi.

Siti hanya duduk manis di seberang meja suaminya, dengan penuh cinta ia memperhatikan suaminya yang makan dengan lahap. Lelah sekali Mas Tunip, pikirnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, Tunip pun sudah beranjak dari dapur ke kamar. Setelan kemejanya sudah ia tanggalkan dan bersiap untuk tidur. Tak biasanya ia tidur cepat selepas makan. Sebatang rokok pun tak sempat dihisap. Siti pun bergegas membersihkan dapur, piring masak-masakan pun tak sempat ia bersihkan. Ia segera mengambil minyak zaitun dari lemari dan siap memijit punggung suaminya. Rutinitas malam.

Tangan lembut Siti dengan cekatan mengusap punggung suaminya dengan lihai, terutama daerah leher dan bahu yang sering pegal, profesi Tunip sebagai tukang angkut sawit tentu menuntut bahu-bahunya untuk bekerja lebih keras. Namun jemari Siti selalu tahu cara mengurangi beban penat di bahu suaminya. Ah, Siti..

Tak lama tangan kasar Tunip terasa menyentuh paha Siti, menyelinap ke dalam baju roknya. Dan dengan cepat bergerak ke bagian intim Siti. Kasar. Siti melenguhsesekali. Lalu kurang dari hitungan menit, mereka sudah di posisi mantap. Satu dua kali terdengar desahan dari keduanya. Ketika pergulatan selesai, Tunip pun tertidur pulas. Dan disaat yang sama terdengar ketukan pintu.

Siti yang tengah terbaring, tak mendengar suara ketukan pintu yang tersamarkan dengan suara hujan yang deras di luar rumah. Saat ketukan di pintu semakin kencang, Siti pun tersentak. Segera ia berpakaian dan berlari ke arah pintu. Jam sudah menunjukkan pukul 24.00 WIB, siapa yang bertamu di tengah malam, pikirnya.

Ketika pintu terbuka, Siti terkejut bukan kepalang. Suaminya, Mas Tunip berdiri basah kuyup di depan pintu.
"Kamu ngapain saja sih? Buka pintu kok lama betul", hardik suaminya yang sedari tadi sudah kedinginan ditiup angin malam dan hujan.
Mas Tunip langsung nyelonong masuk ke rumah, menuju dapur untuk mengeringkan rambutnya dan membuka baju yang sudah basah kuyup.

Siti masih berdiri terpaku di pintu, nyeri di antara pahanya masih terasa, kepalanya seketika pusing, Siti tak bisa percaya, siapa yang tadi bergumul di ranjang dengannya?

Tuesday, 22 May 2018

Doa yang Zalim



Aku benci sekali dengannya. Hari itu hatiku begitu panas. kata orang, doa orang yg dizalimi cepat terkabul. Karena merasa dizalimi, lalu aku pun berdoa "Aku ingin dia mati saja". Terkadang sikap kakak tertuaku itu lebih sering menjengkelkan perkara egonya yang tinggi.

Malam sudah larut. Lampu rumah sudah dimatikan. Kudengar tak ada lagi suara cekikikan adik-adikku di kamar sebelah. Sayup-sayup mataku pun tertutup. Sebentar lagi sahur, pikirku.

"Gubrak!", terdengar olehku suara berisik. Sahur kah? cepat sekali. Ah tak mungkin.
Kutarik lagi selimutku.

"Aaaaarrrghh!!", kali ini kudengar suara pekikan panjang dari kamar kakakku.

Aku segera beranjak dari kasur dan berlari ke pintu kamar. Aku mengintip sedikit dari lubang di dekat engsel pintu. Tampak olehku sesosok lelaki besar. Ia tengah menyeret-nyeret kakakku dengan menjambak rambutnya. Kasar sekali.

"Perampok!", pikirku.

Tampaknya ia sedikit kewalahan menghadapi kakakku yang terus meronta. 
Tanpa pikir panjang, dengan memanfaatkan suara-suara pekikan kakak yg berisik, lantas aku menarik kasur kedua di bawah kasur utama. Aku berharap suara gesekan antara kaki tempat tidur dan lantai tidak begitu terdengar dikarenakan teredam oleh suara teriakan kakakku. Lalu aku menggulingkan badanku di bawah tempat tidur dan menepi di ujung dinding lalu menarik kembali kasur bawah tersebut untuk menghimpit tubuhku.

Brak!!,
Suara pintu kamarku ditendang paksa. Tampak bayang lelaki itu besar dan mengenggam pisau. Sepertinya ia kewalahan mencari penghuni kamar ini. Ia membongkar semua isi lemari dan membungkuk sejenak ke bawah kasur. Untung tubuh kecilku bisa nyaman terhimpit di dinding oleh kasur kedua yang tadi telah kuseret paksa untuk menghimpit tubuhku.

Entah apa yang dicari perampok itu. Uang? Atau aku??
Tampaknya ia kesal karena tak menemukan apa yang dia mau. Lantas ia menyepakkan sesuatu yang menggelinding. Tampak seperti bulatan yang berambut. Menggelinding lalu terhantam ke dinding.
Kepala.
Matanya nanar, mengarah kepadaku. Itu mata pada kepala kakakku yang sudah dipenggal lelaki beringas itu.
Sayup aku dengar derap langkah lelaki itu menjauh.
Entah berapa jeritan susulan lagi yang kudengar dari kamar adik-adikku.
Kuakui jemariku bergetar hebat.
Ditambah mata kakak di kepala itu yang nanar menatapku.
Seakan ia ingin menyampaikan sesuatu.

"Doa terzalimi-mu terkabul", itu mungkin pikirku.

Thursday, 10 May 2018

Namanya Tita



Sore itu suaminya pulang lebih awal, tidak biasanya. Nia memandang lelaki yang telah menikahinya selama 5 tahun itu lamat-lamat dari balik dapur. Lelaki yang dipandangi pun tidak merasa, malah sibuk dengan bungkus di tangannya. Penasaran, perlahan Nia menghampiri suaminya.

“Kamu cape?”, Nia mengusap lembut bahu suaminya.

“Eh, kamu.. Haha.. Gak sih”,  Lelaki itu jadi salah tingkah, barangkali terkejut dengan usapan Nia yang mendadak.

“Lalu?”, Nia pun bingung. Ia memandangi bungkus yang sedari tadi dipandangi suaminya.

“Eh, ini, buat kamu”, Lantas lelaki menyodorkan bungkus yang sedari tadi membuatnya gelisah kepada Nia.

“Wah, indah sekali”, ucap Nia dengan sumringah. Gerbera Aster pink itu dengan segera mencerahkan hatinya. “Bunga yang indah”, pujinya bahagia.

“Iya, buat kamu”, lelaki itu mengulum senyum, diletakkannya jemari dengan perlahan sambil membelai perut istrinya, “Katanya kalo ibunya senang, maka bayi yang di dalam juga akan senang”, candanya. 

“Aku mandi dulu ya, gerah nih.”, Tutup lelaki itu dan berlalu.

Nia masih aja berdiri di ruang tamu. Lamat-lamat dipandanginya tulisan kecil di sudut bungkus bunga. Hatinya cukup mencelos. Ia pun tersenyum. Dikulum.

***

“Kamu gak makan? Kan kamu cape. Jalanan macet lho. Pasti kamu belum ada makan seharian. Ayo dimakan dulu”, Nia terus memburu suaminya dengan kalimat-kalimat yang tak sempat dijawab lelaki itu.

“Belum lapar”, jawab lelaki singkat. Ia tampak bingung. Handphone-nya terus berdering. Nomor yang sama selalu meneleponnya akhir-akhir ini. “Sebentar ya”, ucap lelaki pada istrinya.

“On call lagi?”, ucap Nia kesal.

“Gak lama kok, mungkin 1 jam aku balik ya?”, lelaki berlalu dan Nia diam terpaku. Belum sempat menjawab, “Baik, akan kutunggu”.

 ***

Lelaki itu melamun, dipandanginya wajah istrinya yang tertidur. Sedikit saja ia merasa bersalah telah membuat istrinya ketiduran menunggu.
Telepon pun berdering lagi. Ia mengangkat panggilan itu. Terdengar desahan wanita di ujung pesawat telepon yang melarutkannya dalam bahagia.
Malam pun sudah terlalu larut untuk membangunkan istrinya. Ah, untuk apa.

***

“Makannya kok tidak abis? Terlalu pedas ya?”, Lelaki bertanya.

“Iya nih, sampai nangis”, istrinya tersenyum.

“Iya deh, besok-besok kita tidak usah beli di warung itu lagi ya”,  lelaki tersenyum.

Istrinya terus menyuapi nasi tiada henti. Hambar. Pedas pun tak tau lagi bagaimana membedakannya. Mungkin sudah lupa. Sebab rasa sakit dihatinya lebih dari rasa pedas di mulutnya. Terus ia suapi nasi di piring dan memakannya dengan lahap. Air mata ia biarkan tumpah. “Mungkin ini rasa pedas”, pikirnya.

Ia terbayang pada satu nama yang sama. Yang belakangan kerap dihubungi suaminya. Wanita pecinta Gerbera Aster yang sempat dipujinya. Ah, beginilah nasib jadi istri kedua. Dan sekarang suaminya siap beristri tiga.Tita namanya.
Sialan.

Tuesday, 1 May 2018

Jaa & Doo: The tenth pieces (Bonus)



Lalu Jaa datang kembali pada kali kedua, oh bukan, kali ketiga tepatnya.
Tampak cincin putih yang melingkari jari manisnya yang legam. Begitu kontras.
Ia bertanya tanpa dosa, "Bisakah kita bersama lagi? Kali ini aku ingin kau jadi yang kedua. Boleh jadi yang kedua, tapi aku janji, kau tak pernah jadi yang kedua dalam hidupku, selalu pertama. Itu posisi yang tepat bagimu di hatiku. Selalu."

Doo terperangah, sebab Jaa menanyakannya tanpa dosa. Ini gila. Jaa telah menikahi wanita yang tak pernah diinginkannya. Dan oleh karena itu ia punya alasan halal untuk menyiksa wanita itu. Kasihan.

Doo tidak lantas menjawab, diam mungkin adalah cara yang tepat. Diam karena jawaban "aku tak mau" tak begitu menggebu untuk diungkap.

"Hhmm.. aku ingin menikah hanya sekali. Satu bulan lagi. Aku ingin menjalani hari setelah itu dengan bahagia, karena menikah memang hanya sekali."

"Ayolah, kita diperbolehkan menikah hingga 4 kali! Yang benar saja.", Jaa tertawa, tak renyah.

"Mungkin itu bagimu. Bagiku tidak.", Doo merasa sedikit muak.

"Kudoakan kehidupan yang tak bahagia bagimu. Lantas kau siap untuk kembali denganku kan? Dengar, apapun yang terjadi padamu, kau akan selalu punya aku. Jalanmu pulang."

Doo ingin menangis seperti dulu. Ketika angin pantai yang memainkan rambutnya bertiup semilir, senja yang sempurna di sore itu menanggalkan semua mimpi, rindu, dan cinta di hatinya. Lalu Jaa pergi tak melihat lagi.

Namun kali ini Doo yang berlalu. Dimatikannya segera sambungan telepon di seberang sana. Segera. Sebelum ia gila.



***



Bolehkah mega yang megah tumpah membasah?
Sedari senja yang tertidur, biasnya lupa pada arah.
Bolehkan ia marah?
Lalu kaki langit meluas seluas jarak kita, hidup di dunia yang bukan lagi kita, pun senja harusnya masi sama, namun kulihat ada beda.
Rindu itu sedikit lagi saja, bukan dia.

Saturday, 31 March 2018

Menyusul Dito






Dipandanginya lagi layar di ponselnya lamat-lamat. Sudah hampir 9 hari Dito tidak berkabar. Keramaian pasar Kriya di malam itu tidak menggubris sepi yang ada di hati Naya.

***
Sebulan yang lalu..

“Nduk, jangan terlalu lelah bekerja”, pesan ibu dari telepon.

“Iya Bu, masih pukul 9 malam, jalanan masih ramai kok”, Naya kembali meletakkan beberapa lembar kertas fotocopian di mesin. Pelanggan masih ramai. Jalanan di daerah Magersari belum sepi sampai dini hari. Bekerja hingga larut sudah biasa dilakoni Naya.

“Yasudah, makan jangan telat, Nduk. Kamu masih gadis, tidak baik juga pulang malam kan.”

Pikiran Naya menerawang entah kemana, wajahnya kusut, tidak bernyawa.

“Nduk?”, panggil Ibu. “Kamu masi disitu?”, Ibu bertanya lagi.

“Iya bu, ini Naya mau bersiap tutup toko”, tandas Naya.

“Baiklah, hati-hati Nduk”, tutup Ibu.

Suara telepon di seberang sana pun dimatikan.

***

“Naya kemana?”, Ria menanyakan keberadaan temannya dengan Sari, yang juga satu kos dengan Naya.

“Eh, udah lama kamu ga muncul Ria. Nyari Naya ya? Dia kemarin kan pulang ke rumahnya”, Sari menjawab seadanya.

“Pulang? Kok gak bilang sih? Payah tuh anak”, celetuk Ria.

Sari diam sejenak, lalu melanjutkan, “Kamu ada merasa yang aneh gak sih sama dia?”

“Maksudmu?”, Ria merasakan hal yang sama namun masih penasaran dengan maksud Sari.

“Iya sih, dia sering melamun, kelihatan sedih, padahal minggu lalu dia baru diberikan cincin emas oleh Dito loh, harusnya dia senang kan ya?”, cerita Sari.

“Cincin emas? Dari Dito?”, Ria bertanya heran. “Mereka mau nikah?”, tanyanya.

“Loh, kamu gak tau? Kayaknya dia heboh deh bahas itu sejak 2 minggu lalu. Ternyata tebakannya benar, bahwa dia mau dilamar”, tampak senyum sumringah di wajah Sari.

Ria bergeming sejenak. “Kamu tau kan kalo Dito kecelakaan 3 minggu yang lalu? Justru karena itu aku kesini mencari Naya, aku gak sempat mengucapkan bela sungkawa langsung sama Naya, karena sibuk dengan pekerjaan baruku. Aku udah gak di warung Magersari lagi Sar, bulan lalu aku udah pindah ke Pemalang.”

“Hahaha… Kamu bercandanya keterlaluan Ria!”, Sari mencibir candaan Ria yang menurutnya garing. “Baru minggu lalu Dito ngasih cincin ke Naya, dan 4 hari lalu kalo gak salah dia bilang mau pulang ke Ambarawa, katanya sih ke rumah calon mertua, diundang sama keluarga Dito kesana, mau bahas pesta kali”.

Ria heran dengan penuturan Sari yang tak masuk akal. “Aku gak bercanda, Sar. Dito uda meninggal”.

“Lalu Naya? Kemana dong? Ngapain ke Ambarawa?”, Ria mencelos.


***


Sesekali dipandanginya interaksi penjual dan pembeli di pasar itu.

“Hmm.. Selalu ramai”, Batin Naya.

Dipandanginya lagi cincin emas yang melingkar di jari manis tangan kanannya. Uang gajinya habis membeli cincin itu. Ibu pasti senang karena anak perempuan tertuanya akan menikah. Tidak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan sinis yang dilontarkan kepadanya. Pertanyaan yang memuakkan baginya. Naya anak pertama dari lima bersaudara. Ketiga adik perempuannya sudah menikah. Naya tak juga kunjung menikah. Penantian panjangnya pada Dito berakhir mengenaskan sejak kabar pernikahan Dito yang diterimanya 2 bulan lalu.

Namun Naya tak perlu bersedih lagi, sebab kecelakaan sebulan lalu sepulang Dito dan istrinya dari lokasi wisata Semirang telah merenggut nyawa keduanya. Naya hanya perlu menyusul, begitu pikirnya. Motornya pun terus dipacunya melesat melewati jalur Ungaran menuju Bergas lalu Ambarawa dan seterusnya. Matanya kosong, menari-nari ke kisah beberapa bulan silam. Saat Dito menjadi satu-satunya alasan bahagia bagi Naya. Sekarang sudah tidak ada lagi.

“Aku hanya perlu menyusulnya”, batinnya.



Wednesday, 28 February 2018

Sukin kepada Nurma




Aku ingin Sukin

Sudah satu dekade Nurma mencintainya, bahkan terbilang satu abad pun ia sanggup! Hmm.. sungguh bebal cintanya pada Sukin. Apakah itu mencinta atau memaksa? Ntahlah, Nurma tak tau, yang ia mau nyaman yang ia temu itu nyata jika ia berada di sekitar Sukin.


"Kau hendak merantau ke tanah Sumatera?", kira-kira itulah pertanyaan enam tahun yang lalu yang pernah diutarakan oleh Nurma.

"Bergiatlah Sukin, aku akan setia, disini", dan begitulah kalimat penutup manis dari Nurma yang berujung pada hubungan mereka yang juga tutup usia di tahun ke delapan.

Ternyata Sukin yang tak mampu menampung cintaan Nurma yang (mungkin) terlalu besar dan hal itu membuat jiwa "pemain" Sukin melawan. Ntahlah perkara dikekang, ntahlah perkara ketaatan di keluarganya, atau ntahlah memang perkara Sukin yang selalu ingin mendua, itu lahiriah baginya.

Kasian Nurma, sekarang umurnya sudah kepala tiga, ia masih saja bergelayut dengan angan. Doa terus dipanjat, Tuhan sudah menjawab, namun Nurma ingin Sukin, maka benarlah jika dikatakan itu memaksa, bukan mencinta. Dan baginya menunggu Sukin seperti menanti senja, selalu saja sama indahnya.


(―˛―“) ~(‘▽’~) (~’▽’)~ (~‾ ▽‾)~ ‎(⌣_ ⌣!!) (˘⌣˘)ε˘`) (˘ з ˘) (¬_ ¬) (¬_¬”) (¯―¯٥) ( ‾_‾ ) (―˛―“) (‾(••)‾) (° △ °|||)?


Aku (belum) ingin Nurma

Sudah satu dekade Sukin bersama Nurma, baginya ini dihantui, bukan dicintai. Mau sampai kapan? Satu abad lagi? Hiiyy....!
Lah, kurang apa Nurma baginya? Segala kelebihan ada padanya, tapi ntah mengapa dicintai apa adanya tidak cukup memacu adrenalin percintaan Sukin. Apakah itu mencinta atau menerima? Ntahlah, Sukin tak tau, yang jelas ia tak mau menerima itu dikarenakan sayang dan kasian, atau lebih tepatnya pada alasan yang kedua. Tapi daripada tidak ada, biarlah ia merasa nyaman berada di sekitar Sukin.

"Aku hendak merantau ke tanah Sumatera", kira-kira itulah pernyataan enam tahun yang lalu yang pernah diutarakan oleh Sukin.

"Iya, aku akan bergiat hingga nanti aku bisa memenuhi janjiku untuk menikahimu, aku hanya ingin itu yang menjadi tujuanku", dan begitulah kalimat penutup manis dari Sukin yang berujung harapan besar yang ditanam Nurma padanya, hingga pada akhirnya hubungan mereka menutup usia di tahun ke delapan, namun Nurma masih menginginkan Sukin, jauh di hatinya.

Ternyata Sukin yang tak mampu menampung cintaan Nurma yang (mungkin) terlalu besar dan hal itu membuat jiwa "pemain" Sukin melawan. Ntahlah perkara dikekang, ntahlah perkara ketaatan di keluarganya, atau ntahlah memang perkara Sukin yang selalu ingin mendua, itu lahiriah baginya.

Tapi dicintai apa adanya, dan diiyakan semua maunya, dan menampakkan cinta begitu besarnya ternyata membuat Sukin jengah dan merasa seperti hidup dengan patung, tak ada pergejolakan disana.

Sekarang Sukin umurnya sudah kepala tiga, ia masih saja membiarkan Nurma bergelayut dengan angan. Perihal janji enam tahun lalu yang masih tersemat pada Nurma.

"Ah, andai ia tau, bahwa aku sudah lama melupakannya, tentu ia tak lagi mau mendamba dan memujaku", batin Sukin di sore itu.
Doa terus dipanjat, Tuhan sudah menjawab, namun Nurma ingin Sukin, maka benarlah jika dikatakan itu memaksa, bukan mencinta. Namun bagi Sukin dinanti oleh Nurma seperti melihat senja, indah memang, namun cepat sekali berlalunya, Sukin butuh dua atau tiga.

Saturday, 24 February 2018

Dia



Handphone-nya bergetar untuk kali ketiga, Disha kembali mengabaikannya.
Pandangannya suntuk menatap benda mati itu bergetar-getar entah untuk ke berapa kalinya. Jemarinya pun sibuk bermain dengan puntungan rokok yang belum habis terbakar.

"Jangan jual mahal", Ori menimpalinya dengan mulut penuh, tak habis-habis dikunyahnya biskuit coklat milik Rifa.

"Biar dia tau! Susah mendapatkan aku Ri!", Disha balas menimpali dengan ketus.

"Juga susah hatimu kalau dia tidak sengotot itu menghubungimu 'kan? Serba salah deh menghadapi wanita ini, dihubungi salah, eh gak dihubungi malah makin salah", Rifa berkomentar tidak kalah sinis. Sekarang biskuit coklat yang nyaris dilumat habis oleh Ori berhasil mendarat di mulutnya, berkeping-keping.

"Iya, sebab kamu bukan wanita", cibir Ori dengan gaya mengejek khasnya.

"Aku tidak butuh komentar kalian, Dia harus bisa menjelaskan semuanya!", Disha nyaris mengambil handphone-nya dengan bantingan. Mengenakan jaket yg disandarkannya di kursi dengan asal lalu mengambil kunci kos-nya dan berlalu.

Base Camp Coffee selalu menjadi tempat mereka berkumpul, entah ada berapa wanita disana. Sekedar hang out dan melepas suntuk sudah menjadi pemandangan biasa di sudut kota kembang ini. Kafe ini lebih banyak dikunjungi wanita, wanita dewasa kota metropolitan yang gaul tepatnya. Mereka berkunjung hingga larut malam, hanya untuk melepas penat.

Malam itu cuaca dingin seperti biasa. Sedingin hati Disha. Ia duduk di kursi pinggiran jalan kota. Beberapa pasangan lalu lalang, sesekali diliriknya mereka dengan sinis. Entah kenapa melihat dua sejoli menjadi pandangan yang menjijikkan baginya.

Ia sulut lagi sebatang rokok, dihisapnya lamat-lamat. Cukup menghangatkan parunya. Ia pandangi bayang dirinya di pantulan kaca mobil yang berhenti di depannya. Rambut panjang coklat bergelombang terurai asal di bahunya. Jeans kumal dan kaos putihnya terlihat lusuh. Pelan-pelan ia dekap lagi jaketnya dengan erat, "Gila, dingin banget", serapahnya dalam hati.

"Hei Disha, dimana loe? Buruan dateng, Dia disini nih, loe buat deh perhitungan dengan Dia, minta jelasiLinen semuanya ke dia! Biar ilang suntuk di otak loe", pesan dari Rifa masuk ke -nya.

"Dimana?", jemari Disha membalas chat itu dengan cepat.

"Ya Base Camp lah!", balas Rifa singkat.

Tanpa menunggu, Disha mempercepat langkahnya. Berjalan menembus dinginnya kota Bandung. Beberapa manusia terdengar hingar bingar di beberapa taman kota. Ia mempercepat langkahnya. Tiba di pertigaan lampu merah Dago, dia berbelok ke kiri, Base Camp Coffee tak jauh dari sana.
Dengan lokasi yang sedikit menjorok, ditumbuhi pepohonan rindang, lebih banyak pengunjung wanita seperti biasa.

Dari jauh Disha melihat Ori yang asyik duduk di pangkuan Rifa. Malam itu Ori terlihat feminin seperti biasa dan Rifa dengan jeans puntungnya tetap saja terlihat manis, yah sedikit tampan. Tapi bukan Disha namanya jika berani merebut Rifa dari Ori. Ia bukan tipe makan tanaman, tidak seperti Sita.

"Apa maksud loe!", Disha menolak kuat bahu Dia dari belakang.

"Maaf Disha, undangan itu beneran, dan malam ini gua kesini untuk pamitan", jawab Dia lembut, hal ini yg acap kali melemahkan Disha.

"Maksud loe?"

"Gua mau berubah. Gak mau beginian lagi. Selama ini gua menghindar dari loe karena Gua coba untuk berubah, Sha", wajah Dia melemah.

Disha terdiam. Rifa dan Ori tampak memandangi mereka dari meja seberang. Musik berdentuman tak mau kalah dengan kemelut di pikiran Disha. Kali ini dia harus mampu melepaskan wanita yang dicintainya. Kali kedua, berat rasanya. Lalu tanpa pikir panjang Disha memilih menghujam lipatan pisau di tangannya ke perut bawah Dia, perlahan, memutar dalam.
Air matanya menetes. 

"Jangan ya? Jangan pergi, begini saja dulu".

Disha tau apa yang dilakukannya.
Disha hanya belum mau merasakan sakit kehilangan Dia, seperti ketika Disha kehilangan Rifa dulu, tidak mau lagi.

Sunday, 18 February 2018

Cermin




“Kau suka model tempat tidur yang mana? Kurasa yang warna coklat itu bagus.” 
Tak bosan Puan memandangi gambar berbagai pilihan tempat tidur untuk isi kamar mereka nanti, seharian tadi hanya itu saja yang dibahasnya. Namun matanya masih terpaku pada ukiran tempat tidur berwarna cream.

“Boleh yang ini saja?”

“Haha.. aku tau kau akan pilih yang itu, baiklah, kau saja yang memutuskan”, Tuan mengusap rambut ikal Puan, jatuh semampai ke bahu, ah dia memang manis sekali.

“Jadi kita ambil yang ini saja? Uang kita cukupkah?”

“Tentu saja cukup, tabungan ini sudah lama kusimpan untuk mempersiapkan hari ini. Hari dimana kita akan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan orang yang akan menikah pada umumnya.”

Tuan memandang Puan tersenyum, manis sekali, di dalam cermin. Dialog yang indah.

.


“Pak, pak? Cerminnya mau diambil juga?”, seorang wanita tinggi semampai dengan rambut merah menyala menyapa Tuan, buru-buru Tuan berbalik arah kepadanya.

“Tidak, calon ku ini mau ambil tempat tidur yang itu, yang seperti di gambar ini. Ukiran cream yang terlihat lux”, jawab Tuan seadanya.

Wanita itu kembali menatap Tuan lekat, “Calon bapak?”, dia bingung, “Maksudnya bapak? Bapak yang mau membeli tempat tidur cream itu?”

“Bukan saya, tetapi calon saya ini, penjelasan saya kurang jelas ya?”

Lalu Tuan melihat wanita SPG itu pergi, melayani tamu yang lain dan membiarkan Tuan dilayani oleh Bapak security dengan wajah sangar yang segera menggiring Tuan keluar.

“Hmm.. akhir-akhir ini memang banyak org gila karena tidak jadi menikah”, gerutu seorang wanita, sepertinya dia seorang SPG juga, teman si wanita berambut merah.

Tuan meronta sembari ditarik oleh Bapak security yang bergiat mencengkram jemarinya di lengan baju Tuan, menyeretnya pergi dari etalase toko. Tuan melihat Puan bersedih, tak bisa ia menahan tangis, bahkan untuk membelikan tempat tidur indah pun ia tak mampu. Puan menangis di dalam cermin, cermin di etalase toko yang indah, yang juga tak mampu ia beli.