Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Wednesday, 27 February 2019

Sari




“Masakan hari ini enak sekali”, kusantap suapan ketiga dengan lahap.

“Iyakah? Aku hanya menumisnya sederhana loh”, jawab istriku tersipu.

Istriku ini memang jago sekali memasak. Tidak hanya itu, dalam hal mengurusi rumah dan manajemen keuangan rumah tangga pun ia mampu irit tapi tak pelit. Hampir tidak ada kekurangan dalam dirinya.

 “Enak sekali udang kecap ini”, kupuji lagi istriku yang duduk sumringah di depan ku. Kulihat ia ketawa cekikikan sendiri.

“Eh, tadi ibu telepon, ia meminta kita ke rumah hari minggu ini, ada acara arisan di rumahnya”, istriku bercerita datar.

“Ibu? Ibu yang mana?”, tanyaku.

“Ibuku”.

“Sari, tak baik kau menghubunginya lagi, hanya membuat hatinya sedih. Kau harus merelakan ia melupakanmu. Kita juga berjanji akan menginap di rumah ibunya Ratna minggu ini.”

Mata Sari memerah, air wajahnya seketika berubah. Ia segera berdiri dengan marah dan berlalu dari hadapanku. Seketika selera makanku pun hilang. Kuikuti Sari ke kamar, ia duduk di sudut tempat tidur di sudut kamar dengan kaki menjuntai ke bawah dan hanya duduk diam disana. Itu tempat favoritnya, pikirku. Biar sajalah dia disana menenangkan diri.

***

Hari ini sabtu, kupikir bisa lah bangun agak telat. Kulihat istriku tak lagi berbaring di sampingku. Dan benar saja, di luar kamar sudah kucium harumnya nasi goreng teri buatan Sari, kulihat Sari dengan lihainya memainkan segala bumbu dan alat masakan di dapur. Pagi ini ia terlihat lebih ceria, rambut panjangnya terjuntai hingga ke paha. Bagiku melihat Sari bahagia saja sudah cukup. Sudah 6 tahun pernikahan kami namun belum satu anak pun dititipkan Tuhan untuk kami. Lalu kudekati Ia, kubelai rambutnya.

“Tidak ada satu kekurangan pun yang kutemui dari dirimu”, 

Sari terloncat terkejut dan menoleh ke belakang, “Oh, kamu mas, bikin terkejut saja!”

“Hahaha… Kamu manis sekali cemberut begitu, aku suka”.

Sari mematikan kompor tiba-tiba dan berbalik mendengus. “Kamu mau apa?”, tanyanya ketus.
“Tidak kah kamu mau anak?”, tanyaku menggodanya.

Tiba-tiba Sari membanting sendok ke wajan penggorengan dan berlalu.

“Kamu kenapa?”, tanyaku heran.

“Siapa yang cantik yang kau bilang itu? Ratna kah?? Atau aku? Tak ada wajahku dalam wajah ini!, dan aku tak akan mau melahirkan anak untukmu, anak yang hanya akan berwajah seperti Ratna, bukan aku! Kalau pun anak itu ada, lebih baik dia kubunuh seperti Ratnamu!”, mata Sari membelalak dan tampak seperti bukan dia, lalu ia bergegas ke kamar. 

Kuikuti ia ke kamar, lampu kamar gelap, dan tercium bau anyir, lagi-lagi ia duduk di sudut kamar. Kepalanya bergoyang ke atas dan ke bawah dengan kencang, membuat rambut panjangnya yang tadi terikat rapi menjadi terurai acak-acakan. Lama aku memperhatikannya sampai tiba-tiba ia berhenti menggoyangkan kepalanya dan mendelik ke arahku. Matanya merah sekali. Mata Sari. Aku segera berlari ketakutan. Dan Sari pun berteriak melengking kencang.




*6 tahun lalu*

“Maaf Ratna, aku tak bisa menerima ajakanmu untuk menikah, sementara kekasihku, Sari sedang terbaring di rumah sakit.”, jawabku lirih.

“Bukankah ia sudah merelakanmu? Dengan kondisi kaki kanan yang sudah diamputasi dan kelumpuhan anggota badan kiri seperti itu apakah kau masih mau dengannya?”, tanya Ratna menggebu.


“Ratna! Tak pantas kau bicara seperti itu! Sari seperti itu karena aku! Aku yang membuatnya kecelakaan dan menderita luka parah! Apakah menurutmu pantas kalau aku meninggalkannya begitu saja??”, kepalaku terasa panas, dadaku sesak sekali. Semua begitu membingungkan.

“Maaf, maaf mas, aku tak bermaksud begitu”, Ratna mulai terisak.

Air mata mengalir dari pipi Ratna, kulihat gadis disampingku menangis pelan. Ratna sosok yang manis, hatinya begitu lembut. Perlahan kuusap air mata dari pipi putihnya, hidung dan matanya yang memerah sembab terlihat semakin menggemaskan, kuusap kepalanya yang tertutup jilbab.

“Betapa beruntung pria yang akan mendapatkan ia nanti”, pikirku.

Tapi, kenapa baru 3 bulan ini aku kenal denganmu? Kenapa harus Sari? Kenapa harus Sari yang datang di kehidupanku 2 tahun lebih awal darimu? 
Meskipun Ratna wanita cantik dan lembut, idaman semua pria, namun Sari merupakan sosok wanita yang mandiri, sosok istri yang juga aku dambakan.



Esoknya seperti biasa, aku menjenguk Sari di rumah sakit. Dokter baru saja membolehkan Sari pindah dari ICU ke ruang rawatan biasa, jadi aku bisa lebih berlama-lama menjenguknya, dan duduk di sampingnya. Sari memang sosok wanita yang kuat dan mandiri, dengan kondisi begini pun ia masih bisa terlihat ceria.


“Aku senang kau tak kenapa-kenapa”, Sari tersenyum.

Aku terdiam. Tak tau mau menjawab apa. Kecelakaan tragis itu entah kenapa hanya menyelamatkanku. Adik Sari meninggal setelah terlempar dari kaca mobil depan dan kepalanya terbanting duluan ke aspal. Sari yang saat itu duduk di kursi belakang mobil terhimpit di kursi, kaki kanannya terjepit parah di bawah kursi dan badan kiri sulit dievakuasi karena terhimpit badan mobil. Sedangkan aku hanya luka di bagian pelipis kiri. Airbag mobil telah menyelamatkanku.

Sesaat aku melihat ke sekeliling kamar. Banyak bunga-bunga dalam candi kecil berisi lilin yang redup. Aku merasakan ada yang aneh. Dengan gusar kuperhatikan sekeliling kamar lebih seksama. Tanpa sengaja kakiku terpijak seikat bunga di lantai. Kupindahkan kakiku dengan cepat, dan terlihatku di bawah tempat tidur Sari banyak sekali bunga diikat dan lilin-lilin redup disana. Ada secarik foto di tengah rangkaian bunga tersebut dan kuperhatikan lebih detail. Wajah Ratna. 

Aku terperanjat. “Apa maksudnya ini?”, tanyaku heran.

Sari tersenyum aneh. Lama ia tersenyum dan berujar dengan tenang, “Aku ingin menjadi Ratna”.

“Apa maksudmu?,

“Aku tau kau juga mengaguminya, dan kau juga tau dengan kondisi begini hidupku tak akan lama lagi”, 

“Ini bukan sepertimu, kau tak pesimis seperti ini”, jawabku ketus.

“Tenang, aku tak akan meninggalkanmu, aku akan terus hidup”, jawab Sari tenang.

“Maksudmu?”, aku semakin tak mengerti.

“Aku akan terus hidup. Di badan Ratna. Aku belum mau mati. Biar dia saja yang mati.”


Friday, 16 February 2018

Seorang Teman Bercerita




Seorang teman pernah bercerita perihal jodoh, ketika kau masih menyisipkan "dunia" dalam niatanmu, maka Allah belum memberikan jodoh itu kepadamu sampai hanya niatan "akhirat" lah yang membuatmu ingin melaksanakan sunah tersebut.

Seorang teman pernah bercerita, bahwa jodohmu itu adalah persis cerminanmu, namun jika kau mendapatkan jodoh yang lebih baik darimu maka mungkin itu adalah bentuk sayang Allah kepadamu hingga Ia memberikan seseorang yang mampu membimbingmu, lain halnya jika engkau mendapatkan jodoh yang jahat, mungkin itu karena kau tak mendengar nasihat orang tuamu dan terlalu mengikuti nafsumu maka kau terimalah itu!


Seorang teman pernah bercerita, perihal jodoh itu dapat tertunda jika masih ada hati mantan yang tersakiti, maka meminta maaf lah dulu.

Seorang teman pernah bercerita bahwa usah pikirkan jodoh itu, ia akan datang di saat yang tepat, di saat yang indah, saat yang Allah tentukan. Ikhtiar-lah!

Seorang teman pernah bercerita, jodoh itu akan datang dengan sendirinya dan itu adalah fase yang akan kita lewati, jadi usah gaduh! Sebab menikah bukan perihal berlomba, dan jodoh itu kita yang milih lalu kita pula yang menjalani, bukan orang yang menentukan lantas kita yang menjalani?!

Intinya, bersabarlah... Berdamailah dengan hati.. :)

"One step closer with u MR"

Saturday, 23 September 2017

“Kak, Boleh Minta Uang?”




Pernah gak ngalamin minta uang sama orang yang gak dikenal karena situasi mendesak?

Well I had…. ehm, once (˘_˘”)

Pengalaman terbodoh dan teraneh. Saat itu aku dalam perjalanan di angkutan umum mau ke kampus, ternyata ongkos yang biasa aku kantongi dengan uang pas, kurang!


Walhasil aku meminta uang Rp 1.000 dengan penumpang lain yang sama sekali gak aku kenal Σ( ° △ °|||)?

“Kak, saya mau bayar angkot, tapi duitnya kurang, kurang seribu kak, Lillah gak bohong, cuma segini yang terbawa saya di dompet kak.” (sambil nunjukin uang kertas lecek yang ada di tangan).

Dalam hati sih niat awalnya mau minjam alias ngutang aja, terus mau minta nomor Hp kakak itu biar ntar janji dibalikin, tapi aku urungkan niat tersebut karena sepertinya ngutang uang 1.000 rupiah itu terkesan lebay dan klise.

Jadi, minta aja lah ‎(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)


Alhamdulillah si kakak malah tersenyum dan mengeluarkan lembaran uang seribu dari dompetnya \(´▽`)/ \(´▽`)/ \(´▽`)/


Yeay! Aku senang bukan kepalang, mungkin begini perasaan peminta-minta yang benar-benar membutuhkan ketika diberikan sedekah (∏ ω ∏)

P.S: Rajin-rajinlah bersedekah/mempermudah urusan orang lain, maka ketika kau dalam kesulitan maka kemungkinan masalahmu akan dipermudah juga (♥θ♥)

Saturday, 25 February 2017

Kenangan dari Waktu Lalu



Beberapa foto dan musik merupakan perpaduan yang nikmat untuk membangkitkan kenangan. Foto sebagai alat penyimpan "rasa" yang pas. Abstrak. Hanya kita yang bisa mendapatkan feel-nya (˘ڡ˘)

Waktu-waktu yang baik untuk menikmati kenangan-kenangan yang flashback ini lebih pas jika dinikmati dengan semilir angin di tempat yang santai, seperti pantai mungkin?
Atau cukup dengan duduk termangu di tempat yang sepi - bukan kuburan.

Atau menikmati minggu pagi santai di kamar, sambil membuka jendela dan memanjakan mata dengan pemandangan kebun dari lantai dua sembari membiarkan anginnya bertiup memainkan anak rambut (ini hal yang bisa dinikmati dari kamarku-pamer).

Well the times stood still in photographs, awas baper! =(●´З`)ノ

Wednesday, 22 February 2017

Jaa & Doo: The First Pieces

Tidak ada yang salah dalam pertemanan wajar antara Jaa dan Doo.
Sampai akhirnya Doo merasakan kupu-kupu hadir di perutnya tiap kali matanya menangkap Jaa sebagai objek yang mengalasankan itu jatuh tepat pada retina, lalu saat itu ia memutuskan bahwa ini mau.

Atau saat Jaa mengikrarkan sesuatu yang ia rasakan menjalar dari hati hingga ke kepala dengan liarnya, hingga membuat isi kepalanya semrawut acap kali memikirkan hal selain Doo, maka sejak saat itu ia memutuskan bahwa ini candu.

Entahlah, entah mana yang terlebih dulu.

.

Jaa yang berteman sepi merasa Doo adalah penghibur yang riang.
Ini temu.
Namun Jaa khilaf menyadari bahwa Doo berteman kuburan, hingga Jaa jatuh pada nyaman.
Ini semu.
.

Doo tidaklah begitu sendiri, namun ia pelamun sepi, segala hal ia anggap duri hingga menusuk dirinya sendiri, tawanya ceria, berbalut drama, hidupnya paksa.

Begitulah ribuan hari ke depan di antara mereka tercipta, terselip diantara selasar pagi hingga senyum terik oleh matahari yang sesekali membumihanguskan, namun bangkit lagi pada redup sore yang kemudian menggoda jingga pada senja dan romantis malam dalam temaramnya yang diam.

Waktu-waktu pun berhenti tergugu pada hati yang dipaksa mau.
Terus begitu.

.

Sesekali tak lupa mereka menggila pada jarak dan kemudian berdamai kembali dengan hati. Tak jarang pula mereka melupa pada nyata dan menepiskan ilusi, hei itu hidup atau mimpi?

Hingga Doo pun terperanjat, menyadari Jaa yang menurutnya berubah. Jaa pun tak mau kalah, ia ikut mengeluh pada Doo yang menurutnya telah berubah pula. Mereka memarah sembari hati terus memintal. Hubungan jatuh dalam kesal tapi otak terus membebal.
Ini jauh dari kenal.

.

Lalu selasar pagi menyepi, terik matahari tak tahu senyum lagi, jingga meninggalkan bekas marah memerah pada senja yang menghitam, tanda langit berganti malam.
Semua terasa memuakkan. Doo berserapah dengan kalimat antah berantah.
Jaa terdiam dan berlalu ke entah.

.

Kini ratusan bulan berganti rupa, dari sabit ke cembung hingga bulat penuh merekah.
Langit yang mereka pandang tidaklah pernah sama, sebab perbedaan waktu dua negara.
Hatinya saja yang sama tapi langkahnya berbeda.

Inilah yang diserapahinya, mengapa tak dimatikannya saja kupu liar di limbung perutnya hingga habis tak tinggal sisa. Doo pun berlalu tanpa peduli jeda.
Jaa masih saja disana, memikirkan semrawut di kepala yang tak henti pada satu tanya, kapan reda?
Namun nasib tidak tunduk pada mereka.

.

Ini semua hanyalah cerita. Seperti yang kukabarkan padamu, ini hanya cerita. Jaa dan Doo tidak pernah ada. Karena mereka hanya liar dalam imaji kepala.

Sebab mereka memeluk lupa.
Sebab mereka tidak mengusahakan rasa.
Sebab mereka memilih pendarnya buang dari nalar kepala.
Sebab mereka tak mau ada tumpah pada mata.
Sebab mereka adalah sebab-musabab suatu cerita yang aku rindu itu ada.

Sunday, 19 February 2017

Ruang Sendiri


Saat ini lagu Tulus dengan judul “Ruang Sendiri” menjadi lagu fav yg senang kudengar – suara dan irama musiknya asik  ˆ⌣ˆ  Tapi aku cukup bingung dengan liriknya, dimana si penyanyi ingin sekali merasakan sepi dan mengharapkan kekasihnya menjauh untuk sementara waktu demi menyadari seberapa besar “rasa” yg dia miliki (•‾ε‾•)

Nah loh, bukankah setiap orang yg memutuskan untuk bersama itu memang ingin “bersama”? ƪ(―˛―“)ʃ


Merujuk ke judul lagunya, mungkin si penyanyi hanya butuh privasi dan “lelah” selalu diikuti oleh kekasihnya. Hal ini pun membuat aku bergidik. Bcoz it's a normal thing for women untuk selalu ingin tau tentang segala hal terkait seseorang yg disukai n sometime it becomes overdose!

Hmm.. mungkin memang perlu dibatasi dan memberi ruang sendiri-sendiri..
Well enjoy this song guys (˘ з ˘)


Monday, 14 November 2016

Kembali ke Masa Lalu





   Terkadang saat mencium parfum seseorang kita seperti kenal dgn harumnya dan tiba-tiba teringat akan seseorang but has forgotten who is the person (‾(••)‾)
Atau saat kita mendengar musik tertentu malah membuat kita teringat akan suatu kejadian di masa lalu. Means like somehow the music remind u about something and suddenly it made u flashback, turn back in to the time that u were there yg sepertinya kita ingat atau pernah ngalamin tapi gak tau dimana (¯―¯٥)

   Sepertinya kita butuh tuan pengumpul memori di otak agar kita tidak lupa terutama dgn hal-hal penting di masa lalu. Terlebih utk tipe orang sanguin seperti aku dimana lupa sudah menjadi keseharian, kesal sekali rasanya memaksa diri mengingat suatu hal yg aku lupa tapi harus diingat (˘_˘”)

   Lalu bagaimana bila kenangan itu ter-flashback oleh sesuatu yg lebih konkret, bukan hanya musik, atau aroma parfum?
Seorang teman memberikanku game yg pernah aku mainkan hampir 16 tahun yg lalu! Dan parahnya aku lupa kalau aku pernah ada di masa itu, sampai game itu kembali kumainkan dan jutaan pixel di layar laptop membuat aku kembali ke masa lalu. Musik yg terputar di game itu dan game yg kumainkan itu membuatku seakan mengutip kembali potongan-potongan hal yg aku ingat di masa lalu.

   Bermain game dgn abang dan kakakku, suasana rumah saat itu, perasaan deg-degan pulang sekolah hanya karena gak sabaran pengen idupin tombol di belakang TV dan memasukkan kaset SEGA atau kesal dgn controller yg kadang nge-hank, all these scattered memories being like finally collide (⌣́_⌣̀) 
Sometime we forgot things that easy, and when we remember them all, may we can dig out the memories but the feeling of it has changed.

   Mungkin sekarang aku bisa mainkan game itu seperti dulu, tapi bukan dgn controller SEGA, suasananya gak di rumah itu lagi, layarnya gak sebesar TV, mainnya adem di kamar dan gak dengar suara berisik mama di dapur serta gak perlu ngantri dgn abang ataupun kakakku. Tapi justru itu yg dirindukan (T^T)

"Turning back the time is something impossible to do, so we should create the priceless one right now, because the good one wouldn't be forgotten."
ヾ(´ー`)ノ


Well thnks for my tomodachi-AB for the pieces of memory that u brought me in :D

Sunday, 16 October 2016

Cemburu pada Waktu





   Sebuah film menceritakan kisah tentang sepasang suami istri yg hidup bahagia bersama selama 45 tahun. Mereka hidup bahagia meskipun tidak memiliki anak, apalagi cucu. Hari-hari mereka diisi oleh mereka sendiri dan anjing peliharannya bernama Max. mereka menikah di usia sekitar 25 tahun dan bisa dipastikan saat ini (dalam film itu) usia mereka sudah 70 tahun.

   Saat menonton film ini, aku berpikir bahwa bahagia memang bisa diciptakan oleh individu itu sendiri. They care about one anothr, they love each other n that’s enough, won’t more than that. Kemudian konflik mulai muncul saat sepucuk surat datang dari seorang sahabat (perhaps, I didn’t know it well) kepada suaminya yg memberitahu bahwa jenazah seorang gadis yg diperkirakan meninggal 50 tahun yg lalu sudah ditemukan ヽ(´Д`;)ノ

   First, I thought the girl was their daughter. But hei, they didn’t hv any children?!
   N then I found it out that the girl was the husband’s first love!

   Ughh! Body si cewek awet di dalam es di puncak pergunungan Swiss. Ternyata ada cerita yg gak diceritakan oleh sang suami kepada istrinya. Bahwa long time ago, about fifty years ago, there was a girl that the husband loved so much n they were climbing a mountain toghtr n then she slip on the ice, fell into a hole n died there ヽ(д`ヽ)

   Sejak saat itu ada yg aneh dari gerak gerik suaminya. Padahal di film itu cerita berawal dari hari minggu dan sabtu minggu depannya mereka akan merayakan pesta anniversary pernikahan mereka yg ke 45 tahun bersama seluruh teman-teman mereka. N then in one day (perhaps on Tuesday) they were talking, going out, getting lunch outside the house n spending such a good time, they were acting like they have forgotten their feeling about the letter. N they were dancing with a romantic music as the backsound n having sex while laughing. Then the wife slept. Tengah malam istrinya bangun karena ada suara gaduh dari gudang di atas atap. Ketika istrinya bangun n melihat ada apa, ternyata ia menemukan bahwa suaminya sedang sibuk nyari sesuatu di gudang atas. Yah, mencari foto gadis cinta pertamanya yg udah meninggal itu (⌣́_⌣̀)

   Jreng jreng! Konflik pun dimulai kembali.
   
   Hal yg paling menyakitkan adalah ketika istrinya kepo n bertanya sama suaminya, “Andaikan saat itu kau jadi pergi ke Italia dan gadis itu tidak meninggal, apakah kau akan menikahinya?”
   Si suami dgn gaya khas lelaki menjawab, “Well, I didn’t go to Italy n she died”. Huft..cowok memang begitu, selalu saja mengalihkan cerita pada kenyataan.
    Tapi si istri tetap dengan kekepoannya. “Would u marry her??”
    Dan si suami menjawab, “Yes, I would. I would marry her”.
‎(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
  
   Dan si istri langsung diam n said that she want to sleep. Yah cewek memang gitu, suka kali mencari tau tentang sesuatu yg jelas-jelas akan menyakitinya.. (-̩̩̩-͡ ̗–̩̩̩͡ )

   Yg menarik dari cerita film ini menurutku adalah cemburu pada waktu. Walaupun si suami sangat mencintai gadis itu dan masih menyimpan semua foto-foto gadis itu dan bahkan ia mengakui kalau rambut gadis itu hitam seperti rambut istrinya, tapi tetap saja saat ini, detik ini, yang ia nikahi adalah istrinya, bukan gadis itu_karena gadis itu uda meninggal juga sih, haha.. (―˛―“)

   Tapi entah kenapa ada perasaan sedih yg bergejolak (etseh..) yg dirasakan si istri sampe ia segalau n secemburu itu. Cemburu pada sesuatu yg tidak ada. Cemburu pada masa lalu. Cemburu pada waktu. Mungkin dia berpikir kalau seandainya gadis itu masih hidup maka jelaslah bukan dia yg dipilih oleh suaminya dan ia mempertanyakan bahwa selama 45 tahun ini dia hanya menjadi bayang-bayang atas seorang gadis lain yg sangat dicintai suaminya dan dia tidak tau itu…hm…sedih juga sih.. (︶︿︶)

   Well, I would like to write about this story because I had the same story just like this movie so I can feel how was the wife’s feeling. Cemburu pada waktu, bahwa kalo misal gadis itu masih hidup, tentu bukan aku yg dipilihnya, yg disukainya, karena dia pasti akan setia sama gadis itu. Hidup sebagai pemeran utama karena pemeran yg “ter”utama nya uda meninggal, it makes u live like the second figure as always..  


*eh, ending film yg itu akhirnya happily ever after ya, setelah suaminya admit di depan semua org di acara pesta anniv mereka kalau dia sangat mencintai istrinya n tak ada yang lain, hanya kamu satu,,eaak,,haha.. Dan si istri pun has no choice n said, "adek cinta juga la bang,,kekmana lagi..." ヾ(´ー`)ノ  ƪ(―˛―“)ʃ

Friday, 19 July 2013

Dinas "Ceria" :D

   Kebayang gak kalo kamu mendadak jadi orang penting di suatu lingkungan tertentu karena kontribusimu untuk mereka yang begitu positif?
   Yup hal inilah yang aku rasakan selama 3 bulan dinas di komunitas. Sebenarnya sih gak jadi orang penting juga, tapi merasa penting karena bisa memberikan kontribusi positif untuk masyarakat di segala usia.
   Sebelumnya aku ucapkan terima kasih untuk fakultas keperawatan USU yang memberikan aku kesempatan untuk merasakan hal istimewa ini, dan teristimewa kepada teman-teman seperjuangan yang berkat kalian aku bisa menumpahkan cerita berharga ini disini.
   Bermula dari sebuah project komunitas. Yang perlu kamu lakukan untuk memulai sebuah program kerja adalah dengan mengetahui permasalahan yang ada di suatu lingkungan melalui penyebaran angket. Yup, kami membagikan angket ke beberapa penduduk untuk nantinya ditabulasi kemudian dianalisa dan diangkat dalam suatu prioritas masalah.

   Dalam menyebarkan angket, kamu juga perlu membekali diri dengan sikap “sok tau, perlu tau, & mau tau”, kenapa? Karena ada hal-hal bersifat subjektif yang perlu kita tahu dalam menggali masalah yang ada di masyarakat, sekaligus juga untuk jadi bahan obrolan pedekate dan nunjukin ke masyarakat bahwa kamu peduli dengan masalah mereka, hm..nice tips :D
   Setelah diperoleh prioritas masalah yang dikategorikan dalam masalah lingkungan, masalah KB, bayi/balita, remaja dan lansia, kami pun mulai melakukan intervensi atau perencanaan program kerja yang dituang dalam Planning of  Action (POA), kemudian menyusun timeline biar kita tahu kapan kita akan melaksanakan implementasi program kerja dan tentunya setiap program kerja mempunyai penanggung jawab pelaksananya.
     Nah, setelah mendapatkan prioritas masalah beserta persentase data yang mendukung, kita juga perlu memaparkan masalah atau diagnosa yang diangkat agar masyarakat juga tahu apa yang akan kita lakukan selama beberapa minggu ke depan dan sekaligus mengharapkan partisipasi masyarakat agar program kerja dapat berjalan lancar. Untuk itu kami melakukan sosialisai ke wirid bapak-bapak dan wirid ibu-ibu serta sosialisai ke acara pengajian remaja.
   Setelah sosialisasi, kami pun mulai melakukan program kerja, mm...saya lupa urutan program kerja apa yang kami lakukan duluan, tapi saya akan mencoba memaparkan satu per satu program kerja yang kami lakukan, hehe..cekidot ;)
   Untuk masalah lingkungan, salah satunya kami melakukan kegiatan "Minggu Bersih" atau goro-goro setiap jam 8 pagi sampai selesai. Bayangin deh gimana rasanya dinas di hari minggu (yang harusnya libur) dan jam 8 pagi uda heboh bersih-bersih di lingkungan orang yang mungkin kamar sendiri aja gak sempat dibersihin, tapi insyaallah kami ikhlas kok, hehe..

   Kemudian kami juga mendatangi Posyandu di lingkungan untuk membantu kader desa melakukan kegiatan posyandu berupa mendata bayi/balita, menimbang bayi/balita, membagikan makanan tambahan dan sebagainya.

   Selain itu kami juga melakukan kegiatan penyuluhan terkait pemberian ASI dan tumbuh kembang balita serta kami menarik perhatian ibu-ibu disana dengan melakukan kegiatan "Lomba Foto Bayi Sehat". Nah, untuk latar layar fotonya kami membuatnya sendiri secara instan dan alat yang kami gunakan untuk penyuluhan juga berupa media yang sederhana, hehe..


   Dan alhamdulillah kegiatan tersebut berjalan lancar :)
  Kemudian, sambil melakukan pendekatan dengan ibu-ibu tersebut saat Posyandu, kami juga sekaligus melakukan promosi tentang program kerja kami yang lain kepada ibu-ibu tersebut terkait masalah Keluarga Berencana (KB), dimana kami melakukan kegiatan "Konseling KB" bekerja sama dengan lintas sektoral dengan menyediakan jasa layanan KB gratis sekaligus penyuluhan KB dan konseling gratis :)
Dan acaranya alhamdulillah berjalan sukses :D

   Hmm.. program lingkungan sudah, kegiatan bayi/balita sudah, kegiatan KB untuk ibu-ibu juga sudah. Selanjutnya kami mulai merambah ke anak sekolah, dimana kami melakukan kegiatan UKS berupa "Pelatihan Pertolongan Pertama Cedera Ringan dan Keracunan Makanan" pada anak SD.

   Nah, walaupun kami sibuk menjalankan program kerja setiap minggunya, masing-masing dari kami juga tidak lupa untuk tetap rutin melakukan penyuluhan kepada keluarga kelolan dan lansia binaan kami masing-masing untuk terus meng-update masalah mereka dan berdiskusi dengan mereka terkait masalah kesehatan yang mereka alami dan membahas solusinya. Berikut adalah salah satu keluarga lansia binaanku yang sedang aku lakukan implementasi :) 
    Dalam memberikan implementasi pun, kita mau tidak mau harus menyesuaikan dengan kesibukan mereka. Seperti lansiaku yang setiap harinya bekerja sebagai pemetik cabe. Jadi disela-sela kesibukannya pun aku terpaksa ikut nimbrung dan membagikan info kesehatan kepada mereka.
  Selain melaksanakan program kerja dan rutin mengelola keluarga binaan, kami juga tidak lupa melakukan kegiatan mingguan kami, selain kegiatan "Minggu Bersih" yang aku ceritakan di awal, kami juga melakukan kegiatan mingguan "Pemeriksaan Jentik Berkala" setiap hari jumat dengan mendatangi rumah-rumah warga di lingkungan kami dan memberikan penyuluhan terkait pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Dalam kegiatan ini kami juga seharusnya membagikan bubuk abate gratis pada tiap rumah. 
   Kebayang gak sih gimana kamu harus keliling-keliling kamar mandi rumah orang dan celingak-celinguk disana?
   Selain kegiatan "Pemeriksaan Jentik Berkala", kami juga punya program kerja mingguan berupa "Senam Lansia" dan "Jalan Santai Lansia" dimana kegiatan ini ditutup dengan penyuluhan kesehatan seputar masalah lansia seperti Rematik, Diabetes Mellitus, Hipertensi, Gastritis, dan lain-lain. Ini merupakan kegiatan yang paling aku senangi, karena bisa sejenak menggerakkan tubuh bersama para lansia dan sehat pula! :D

  Huft... panjang ya ceritanya? Tapi kerasakan gimana positifnya kegiatan yang kami lakukan? Dan yang paling penting kontribusi positif ini dapat dirasakan di segala lapisan usia, alhamdulillah.. :)
Sebagai program kerja penutup dari semuanya, kami mengadakan kegiatan Big Project (begh...ternyata masih ada lagi ya?)
   Kegiatan Big Project yang kami lakukan ada 2, yaitu Big Project komunitas berupa penyuluhan tentang pengelolaan sampah bekerja sama lintas sektoral dengan Lembaga Lingkungan dan kegiatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) berupa menyikat gigi dengan benar yang bekerja sama dengan dokter gigi FKG USU serta Big Project Gerontik berupa penyuluhan tentang osteoporosis dan pemeriksaan kesehatan gratis.

   Yang terakhir, sebagai informasi: Inti dari asuhan keperawatan komunitas yang kami jalankan adalah untuk memberikan upaya promotif dan preventif terkait masalah kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok ataupun masyarakat yang nantinya diharapkan dapat terjadi perubahan perilaku sehat yang lebih baik oleh mereka.
                                                              ooooO____Ooooo


   Wuih... awesome deh ngebayangin semua rentetan kegiatan tersebut bisa kami lewati dengan lancar, alhamdulillah... Tetapi dalam melalui semua itu, tentunya gak mulus-mulus aja. Di awal dinas kami sempat bengong 2 minggu dan stuck gak tau mau ngerjain apa duluan. Belum lagi sempat ribut dan gadoh karena selisih paham (pasti). Terus semuanya stres ngeliat gimana berseraknya posko (rumah tempat kami stay) setiap habis ngerjain tugas, kayak contoh yang satu ini:

   And the last we were successful because we fought for it, and we deservedly for it :)

   "Masa-masa profesi memang indah untuk dikenang tapi SULIT untuk diulang", hehe..